BATULICIN, POSKOnews.id– Warna-warni motif sasirangan berpadu dengan jejak daun alami yang tercetak indah di atas kain menjadi pemandangan yang menghiasi wajah-wajah penuh semangat masyarakat Desa Sumber Makmur, Kecamatan Satui.
Selama enam hari, dari 14 hingga 19 Juni 2026, puluhan warga mengikuti Pelatihan Pembuatan Kain Sasirangan dan Eco Print yang digelar CSR PT Borneo Indobara (BIB).
Bagi sebagian peserta, pelatihan ini menghadirkan harapan baru untuk mengubah keterampilan menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan. Di balik selembar kain yang mereka hasilkan, tersimpan harapan akan lahirnya peluang usaha baru, tambahan penghasilan keluarga, sekaligus kebanggaan terhadap budaya daerah yang diwariskan turun-temurun.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan yang merupakan bagian dari implementasi Nota Kesepahaman (MoU) antara CSR PT Borneo Indobara dan Pemerintah Desa Sumber Makmur dalam upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat serta pengembangan ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan penuh antusias. Para peserta dengan tekun mempelajari setiap tahapan pembuatan sasirangan, mulai dari mengenal sejarah dan filosofi motif khas Kalimantan Selatan, teknik menjelujur kain, proses pewarnaan, hingga menciptakan karya eco print menggunakan dedaunan dan bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan mereka.
Di setiap sesi praktik, tawa dan diskusi terdengar silih berganti. Para peserta saling berbagi ide, mencoba berbagai pola, dan berkreasi menghasilkan motif yang unik. Kreativitas yang tumbuh selama pelatihan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk kerajinan yang bernilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Untuk memberikan pembelajaran yang komprehensif, CSR PT Borneo Indobara menghadirkan dua pelaku usaha sasirangan berpengalaman, yakni Owner SBK Sasirangan, Ibu Reni, dan Owner Kantan Sasirangan, Sandi Agustinus.
Menurut Ibu Reni, semangat belajar yang ditunjukkan peserta menjadi modal penting dalam membangun usaha kreatif berbasis budaya lokal.
“Saya melihat kreativitas peserta sangat baik. Mereka cepat memahami teknik yang diajarkan dan mampu menghasilkan karya yang memiliki karakter. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, saya optimis produk-produk dari Desa Sumber Makmur bisa berkembang dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Optimisme yang sama juga disampaikan Sandi Agustinus. Ia menilai tren pasar saat ini semakin terbuka terhadap produk yang mengangkat nilai budaya dan konsep ramah lingkungan.
“Produk sasirangan dan eco print memiliki keunikan yang tidak dimiliki produk pabrikan. Jika terus dikembangkan dari sisi kualitas dan desain, peluang pasarnya sangat besar,” katanya.
Bagi Pemerintah Desa Sumber Makmur, program ini menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Kepala Desa Sumber Makmur, Muhammad Adib, menyampaikan apresiasi atas dukungan CSR PT Borneo Indobara yang secara konsisten menghadirkan program-program pemberdayaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Pelatihan ini membuka peluang baru bagi warga kami. Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menjadi produk unggulan desa,” ungkapnya.
Komitmen untuk mendorong lahirnya ekonomi kreatif desa juga disampaikan oleh Perwakilan Manajemen CSR PT Borneo Indobara, Silvyna Aditia. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi juga harus membuka akses terhadap pasar yang lebih luas.
“Kami ingin masyarakat memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk yang bernilai jual dan berkelanjutan. Karena itu, CSR PT Borneo Indobara terus berupaya mendukung pengembangan produk lokal, termasuk membuka peluang promosi melalui berbagai pameran di tingkat regional, nasional, hingga internasional,” jelasnya.
Puncak kebahagiaan peserta terlihat saat kegiatan penutupan di Pantai Angsana pada 19 Juni 2026. Dengan latar keindahan pantai, para peserta menampilkan hasil karya sasirangan dan eco print yang telah mereka buat selama pelatihan. Kain-kain bermotif khas dan berwarna cerah itu dikenakan dalam sesi modeling dan catwalk sederhana yang berlangsung meriah.
Momen tersebut menjadi simbol lahirnya rasa percaya diri baru. Karya yang sebelumnya hanya berupa ide dan latihan kini tampil sebagai produk yang siap diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Dari selembar kain dan jejak daun yang tercetak di atasnya, tumbuh harapan baru bagi Desa Sumber Makmur. Harapan tentang ekonomi yang lebih mandiri, masyarakat yang lebih berdaya, serta budaya lokal yang terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.(**)

